Keterasingan (Ghurbah)

Sesungguhnya ingin sekali hati ini bersuara, antara jeritan tangis dan tawa, antara duka berbalut suka. Jatuh dan bangun menempuh manhaj ini, Ash Shirath al Mustaqim, Al Islam.

Mungkin banyak dari kami dan kamu merasa terasing karena mengamalkan Islam secara kaffah (keseluruhan), mereka menuding dengan persangkaan yang tidak mempunyai dasar, melainkan hanya sekedar dzan (prasangka). Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, karena memang telah menjadi sunnatulloh bahwa Islam berawal dari keterasingan kemudian akan kembali kepada keterasingan seperti yang telah Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam sabdakan :

Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘Anhu ia berkata: “Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka berungtunglah bagi orang-orang yang asing”. [Hadits Riwayat Imam Muslim 2/152 no. 232-(145)]

Ada satu pesan yang membuat saya terkesan, dan sadar bahwa inilah jalanku yang lurus. Ketika membaca sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Armen Halim Naro semoga Alloh merahmati dan mengampuni beliau, di dalam bukunya yang berjudul “Temui Aku di Telaga” tentang panduan dan motivasi berpegang teguh pada zaman keterasingan, beliau berkata “Kebahagian itu yang aku dan engkau sedang mencarinya ada pada istiqomah pada jalan kebenaran itu sendiri, itulah yang telah disebutkan oleh Alloh Subhanahu wata’ala bahwa orang yang beriman tidak ada takut dan kesedihan baginya, kemenangan bagi yang bertaqwa, yang berbahagia adalah yang mengerjakan penghambaan diri kepada Alloh”.

Begitu berharganya keberadaan seorang muslim yang hanif sehingga dalam suatu kisah Sufyan ats Tsauri rahimahulloh berkata kepada seseorang yang datang dari jauh: “Jika engaku bertemu dengan seorang ahlussunnah, sampaikan salamku! sesungguhnya ahlussunnah saat ini gharib (asing)”.

Sufyan ats Tsauri rahimahulloh hidup pada awal abad ke tiga, bagaimana dengan saat ini? mungkin sebagian dari cara memperoleh ke istiqomahan untuk hidup pada zaman ini adalah dengan mempelajari Islam (Al Qur’an & Sunnah) dengan pemahaman orang-orang yang telah Alloh ridhoi untuk kita ikuti pemahaman mereka yaitu pemahaman Sahabat rodhiyallohu ‘anhum jami’an, wal ladzinat taba’uhum bi ihsanin illa yaumiddin yaitu generasi setelah sahabat (tabi’in) kemudian setelahnya lagi (tabi’ut tabi’in) dan setiap orang yang mengikuti mereka para sabiqunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam).
Semoga kita termasuk di dalamnya (orang yang di ridhoi Alloh) Aamiin.

Wallahu A'lam



Previous
Next Post »