Hanya Kematian Yang Menghentikan Dakwah Ini

✽ Hanya Kematian yang Akan Menghentikan Dakwah Ini ✽

Kelelahan adalah sebuah efek wajar dari aktivitas yang berulang ulang, kontinu bahkan terkadang membosankankan. Keletihan adalah kenikmatan yang diberikan-Nya di sela-sela aktivitas kita karena kedatangannya membuat kita merasakan nikmatnya beristirahat, kedatangannya membuat kita memperoleh kesempatan untuk menarik nafas panjang sebelum kita kembali berlaga.


Namun adalah keletihan yang meraja yang akan membekap bara semangat, azam dan harapan, meredupkannya dan diam-diam memadamkannya. Oleh karenanya, ketika kita bermain-main dengan keletihan, maka seyogyanya kita menjaga agar keletihan itu tidak menjadi penjara untuk perjalanan kita selanjutnya dan pada saat yang sama hendaknya kita selalu sadar akan keberadaann cawan-cawan yang berisi cairan energi yang senantiasa dihidangkan untuk kita.

Sumber kekuatan yang akan membuat kita untuk tidak betah berkubang dalam lembah kefuturan. Dan energi itu yakni keikhlasan dan indahnya ukhuwah.

Ketika keletihan mulai bersemayam di dada, maka menyadari kembali bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah usaha dan pengharapan besar kita untuk menggapai rahmat dan ridho Allah Subhana wa Ta'ala, akan mengembalikan kekuatan untuk bangkit.

Keikhlasan adalah tidak berbesar kepala saat pujian mengguyur, begitu pun tidak berputus asa bilamana cercaan menghujam dan menghimpit.

Adalah keikhlasan tidak bergantung pada makhluk yang biasanya menjadi sumber kefuturan itu sendiri. Sebuah keikhlasan tidak mengenal kata lelah karena segala keluh kesah senantiasa dititipkan pada angin yang membumbungkan doa dalam sujud-sujud panjang kita.dan DIA senantiasa menyediakan “telinga”-Nya untuk kita.

Saat tubuh tidak lagi tegak, saat kaki mulai lemah, saat lisan mulai kelu untuk menyuarakan kebenaran, maka pada saat yang sama ada saudara kita yang memapah, saudara yang akan menopang kaki yang telah rapuh, dan menggantikan kita untuk bersuara lebih lantang.

Senyumnya bagai oase dalam kegersangan jiwa kita, perhatiannya adalah penentram kegundahan kita, tausyiahnya adalah semangat baru yang disematkan pada diri ini. Karena dialah kita yakin bahwa kita tidak sendirian.

Andaikan saja kita layaknya sekuntum bunga edelweis yang terus mekar dalam kegersangan, terus mempersembahkan ...senyum... dalam kesederhanaan dan kebersahajaannya, semangat hidupnya dalam keterhimpitan.

Ya... seperti halnya edelweis, tekad untuk memberikan sesuatu bagi kemaslahatan umat adalah ruh hidup itu sendiri sehingga ketika kita ingin keluar dari aktivitas yang menjadi media untuk tumbuh dan hidupnya ruh itu, maka kita telah menyiapkan prosesi HARAKIRI untuk jiwa ini.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Teruntuk Akhi wa Ukhti Fillah Rahimakumullah
Dalam Sisa-sisa Keletihan Berdakwah !!!


Catatan Akhi Rahmat Rijalun/Radi's Share
Previous
Next Post »