Pemulung VS Pengemis

Pemulung VS Pengemis...

Mana yang lebih mulia di sisi Allaah Rabbul 'Izzati wal Jalalah?

Pagi hari ini saya melihat seorang nenek yang menurut perkiraan saya kurang lebih beliau hafizhahullaahu ta'ala berumur 70 tahun.
Beliau hafizhahullaahu ta'ala dengan semangat berjalan dari suatu tempat ke tempat lainnya berkilo-kilo meter menempuh perjalanan untuk mencari sesuap nasi demi keluarganya...

Dari Az-Zubair bin al-'Awwam radhiyallaahu ta'ala 'anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sungguh, seseorang dari kalian mengambil tali lalu mencari dan membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya sehingga dengannya Allaah Subhanahu wa Ta'ala menjaga wajahnya (kehormatannya), itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberinya atau tidak."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 1471, 2075)

Saya pribadi merasa iba (kasihan) melihat nenek, kakek, bapak, ibu, kakak atau adik-adik yang bekerja sebagai -'afwan- pemulung (pemungut sampah) ketimbang melihat orang yang meminta-minta sementara mereka mampu untuk bekerja yang halal meskipun jumlahnya penghasilannya sedikit, Insya Allaahu Ta'ala pekerjaan sebagai -'afwan- pemulung lebih mulia di sisi Allaah 'Azza wa Jalla ketimbang meminta-minta baik apakah itu dikasih maupun tidak...

Dari Samurah bin Jundub radhiyallaahu ta'ala 'anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Meminta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu."
(Shahiih, HR. At-Tirmidzi, no. 681, Abu Dawud, no. 1639, an-Nasaa-i, V/100, 2392, Ahmad, V/10, 19, Ibnu Hibbaan, no. 3377, ath-Thabrani dalam al-Mu'jamul Kabiir, VII/182 - 183, no. 6766 - 6772, dan Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliyaa', VII/418, no. 11076)

Dari Hubsyi bin Junadah radhiyallaahu ta'ala 'anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa meminta-minta (kepada orang lain) tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api."
(Shahiih, HR. Ahmad, IV/165, Ibnu Khuzaimah, no. 2446, dan ath-Thabrani dalam al-Mu'jamul Kabiir, IV/15, no. 3506 - 3508, Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir, no. 6281)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ta'ala 'anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
"Barangsiapa meminta harta kepada orang lain untuk memperkaya diri, maka sungguh, ia hanyalah meminta bara api, maka silahkan ia meminta sedikit atau banyak."
(Shahiih, HR. Muslim, no. 1041, Ahmad, II/231, Ibnu Majah, no. 1838, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, no. 10767, al-Baihaqi, IV/196, Abu Ya'la, no. 6061, dan Ibnu Hibbaan, no. 3384)

Dari Abu Kabsyah 'Umar bin Sa'ad al-Anmari radhiyallaahu ta'ala 'anhu, berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Tiga perkara, yang aku bersumpah untuknya dan aku beritakan satu hadits kepada kalian maka hafalkanlah..."
Kemudian beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam melanjutkan,
"Tidak akan berkurang harta seorang hamba karena sedekah. Tidaklah seorang hamba dizhalimi kemudian ia bersabar atasnya, kecuali Allaah akan menambahkan kemuliaan padanya. Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta, kecuali Allaah akan membukakan pintu kefakiran untuknya."
(Shahiih, HR. Ahmad, IV/230 - 231, at-Tirmidzi, no. 2325, Ibnu Majah, no. 4228, dan al-Baihaqi, IV/189)

Dari Abu Dzarr radhiyallaahu ta'ala 'anhu, ia berkata,
"Kekasihku (Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam) berwasiat kepadaku dengan tujuh hal, yaitu :

1. Supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka.

2. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku (dalam perkara harta dan duniawiyyah) dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku.

3. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar aku menyambung karib kerabat meskipun mereka berlaku kasar kepadaku.

4. Aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan laa haulaa walaa quwwata illaa billaah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah).

5. Aku diperintahkan untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit.

6. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

7. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam melarang agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia."
(Shahiih, HR. Ahmad dalam Musnad-nya, V/159, ath-Thabrani dalam al-Mu'jamul Kabiir, II/156, no. 1649, Ibnu Hibbaan dalam Shahiih-nya, no. 2041 -al-Mawaarid, Abu Nu'aim dalam Hilyatu Auliyaa', I/214, no. 521, dan al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, X/91, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 2166)

Meskipun hadits ini dikatakan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kepada Abu Dzarr radhiyallaahu ta'ala 'anhu akan tetapi hadits ini bersifat umum ditujukan kepada seluruh kaum muslimin.

Wallahu A’lam
Previous
Next Post »

1 comments:

Click here for comments
Sunday, 18 August, 2013 ×

lama tak menyapa, mumpung masih suasana lebaran di bulan syawal, hadir mengucapkan maaf lahir batin...keep happy blogging always...salam kemerdekaan :-)

Congrats bro BlogS Of Hariyanto you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar