Tanda Kebahagiaan dan Kebinasaan

Diantara tanda kebahagiaan dan keberuntungan; bahwa seorang hamba setiap kali bertambah ilmunya, bertambahlah sifat tawadhu’ dan kasih sayangnya. Setiap kali bertambah amalannya, bertambahlah rasa takut dan kewaspadaannya. Setiap kali bertambah umurnya, semakin berkuranglah ketamakannya. Setiap kali bertambah hartanya, bertambahlah kedermawanan dan pemberiannya.
Setiap kali bertambah kemuliaan dan kedudukannya, semakin bertambahlah kedekatannya dengan manusia, pemenuhan kebutuhan mereka dan sifat tawadhu’nya di hadapan mereka.

Dan tanda-tanda kebinasaan itu adalah ketika setiap kali bertambah ilmunya, bertambahlah kesombongan dan kepongahannya. Setiap kali bertambah amalannya, bertambah pula keangkuhannya, meremehkan manusia dan baik sangkanya terhadap diri sendiri. Setiap kali bertambah umurnya, bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah hartanya, bertambahlah kebakhilan dan kekikirinnya. Setiap kali bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambahlah kesombongan dan kepongahannya.

Perkara-perkara ini adalah ujian dari Allah yang dengannya Dia menguji para hamba. Dengannya berbahagialah sebagian orang, dan binasalah sebagian yang lainnya.

Demikian pula dengan segala bentuk karamah adalah ujian, seperti kekuasaan dan harta. Allah Ta’ala berfirman tentang nabi-Nya, Sulaiman, saat ia melihat singgasana Balqis :

هذا من فضل ربي ليبلوني أأشكر أم أكفر

"Ini termasuk karunia Rabb-ku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau ingkar (terhadap nikmat-Nya)". [QS. 27:40]

Kenikmatan adalah ujian dari Allah yang dengannya akan nampak syukurnya orang yang bersyukur dan kufurnya orang yang kufur nikmat. Sebagaimana halnya keburukan adalah ujian dari-Nya subhanahu, maka Dia pun menguji dengan kenikmatan sebagaimana Dia menguji dengan berbagai musibah. Allah Ta’ala berfirman :

فأما الإنسان إذا ما ابتلاه ربه فأكرمه ونعّمه فيقول ربي أكرمن، وأما إذا ما ابتلاه فقدر عليه رزقه فيقول ربي أهانن، كلاّ

"Adapun manusia apabila Rabb-nya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberikan-Nya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabb-ku telah memuliakanku!'

Adapun bila Rabb-nya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata, 'Rabb-ku menghinakanku!'

Sekali-kali tidak (demikian)!!..." [QS. 15-17]


Yaitu; tidaklah setiap orang yang Aku berikan kelapangan, Aku muliakan dan Aku berikan kenikmatan, hal itu adalah wujud pemuliaan-Ku terhadap dirinya. Dan tidak setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan ujian terhadap dirinya sebagai wujud penghinaan dari-Ku terhadap dirinya…


[Imam Ibnul Qayyim dalam Al Fawaa-id, 225-226]
Previous
Next Post »