MAPAN DULU atau AGAR MAPAN?

Ya, kemapanan merupakan salah satu pertimbangan para lajang untuk menikah. Tidak sedikit dari mereka yang memilih menunda untuk menikah jika belum mapan dari sisi keuangan. Ada saja ikhwan yang tidak mau melamar akhwat sebelum ia punya rumah sendiri atau memiliki karier yang mapan di perusahaan.
Begitu juga dengan akhwat, beberapa dari mereka lebih berharap yang datang melamar adalah ikhwan yang sudah ‘jadi’, apalagi jika ia sendiri sudah cukup dari segi keuangan.

Saya ingin membawa sedikit analogi dengan mengajak anda untuk mengenang kembali kapan terakhir anda melihat pemandangan yang sangat indah dari dataran yang lebih tinggi. Pemandangan dari puncak Lembang, atau daerah perkebunan teh yang sejuk di Ciwidey misalnya, atau mungkin cukuplah pemandangan dari pelataran Masjid at-Ta’awun di daerah Puncak, Subhanalloh sekali, betapa Alloh telah menciptakan bumi dengan begitu indahnya.

Jika anda sangat menikmati dan merasa takjub melihat pemandangan dari atas, saya ingin bertanya, Apakah sama rasanya berjalan kaki naik ke atas puncak gunung, lalu melihat pemandangan yang menakjubkan dari atas sana, dengan melihat pemandangan tersebut dari hasil jepretan kamera saja? Saya yakin tentunya akan berbeda.

Atau satu contoh lagi, bagaimana jika anda kemudian naik helikopter dan tidur selama perjalanan, lalu begitu mata anda terbuka, anda sudah berada di puncak gunung dan melihat pemandangan yang sama. Apakah sama rasanya dengan naik dulu ke puncak gunung untuk melihat pemandangan tersebut? Sudah pasti rasanya tidak sama.

Ketika kita harus jalan kaki naik gunung tersebut dengan susah payah, maka perasaan ketika melihat pemandangan tersebut menjadi sangat berbeda sekali dibandingkan dengan melihatnya langsung dari helikopter atau melihat rekaman gambarnya saja. Yang membuat rasanya berbeda bukanlah kualitas gambar yang dihasilkan mata dan kamera, melainkan pada proses pencapaiannya.

Ada proses yang mesti dijalani terlebih dahulu, yang tentu menambahkan keindahan yang kita peroleh setelah berusaha. Begitu juga akan berbeda rasanya ketika kita langsung melihat pemandangannya tanpa harus bersusah payah dahulu untuk mendaki gunung. Pemandangan yang dilihat memang sama, tetapi perasaannya akan berbeda karena prosesnya yang berbeda.

Setelah capek naik gunung, kita akan melihat pemandangan itu sangat indah sekali. Seakan-akan, terbayar sudah kepenatan kita mendaki gunung dengan suguhan pemandangan alam yang menakjubkan. Namun, ketika melihat pemandangan itu tanpa harus bersusah payah mendaki gunung, mungkin pemandangannya hanya akan terlihat indah di mata, tapi kurang memberikan kesan di hati. Apalagi jika hanya melihat gambarnya saja, rasanya mata pun kurang puas melihatnya.

Tanyakan saja pada para pencinta alam yang masuk keluar hutan, dan naik turun gunung. Yang mereka sukai bukanlah berada di puncak gunung, yang mereka sukai adalah proses untuk bisa berada di puncak gunung dan menikmati ‘kemenangan’ atas kerja keras mereka.

Begitu pula dengan proses pernikahan. Menunggu kemapanan ekonomi untuk menikah (atau dinikahi) dapat dianalogikan seperti naik helikopter dan ingin langsung melihat pemandangan tanpa melalui susah payahnya mendaki gunung.

Mungkin contohnya akan lebih mengena jika saya ajak anda untuk memperhatikan para pemancing. Cobalah perhatikan mereka yang punya hobi memancing dan rela menghabiskan waktunya secara rutin di tempat pemacingan. Mereka tidak melakukannya untuk mencari nafkah, mereka juga tidak melakukannya karena sangat suka makan ikan, mereka melakukannya memang karena sangat hobi dengan memancing.

Jika dipikir secara logika keuangan, sepertinya aneh sekali mereka mau mengeluarkan uang yang tidak sedkit untuk bisa memancing. Mulai dari harga alat pancing, umpan, dan tiket masuk atau biaya keanggotaan di tempat pemancingan. Jika dipikirkan kembali, sepertinya biaya yang mereka keluarkan tadi tidak seimbang dengan harga ikan yang akhirnya mereka tangkap.

Mereka rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk bisa memancing. Padahal, jika mereka membeli ikannya di pasar, bisa jadi akan lebih murah. Tapi penilaian itu adalah penilaian kita yang melihatnya dari permukaannya saja. Yang mereka hargai bukanlah bisa memiliki atau membeli ikannya, tetapi yang lebih berharga bagi mereka adalah kepuasan untuk menjalani proses memasang umpan, menunggu ikan, sampai beradu otot dengan sang ikan ketika harus menarik tali pancingan yang terbetot karena ikan memakan umpan. Proses itu semua lebih berharga daripada ikan yang mereka tangkap itu.

Percayalah, perasaannya akan sangat berbeda sekali jika anda dan pasangan anda berjuang bersama dari titik nol menuju titik kesuksesan daripada anda mengajak pasangan anda untuk langsung berada di titik kemapanan. Sebagian dari laki-laki berpendapat, mereka tidak ingin mengajak pasangannya sengsara. Biarlah mereka saja yang melalui sulitnya menuju kemapanan, dan nantinya mereka akan mengajak calon pasangan hidup mereka untuk berumah tangga setelah mereka sudah mapan agar pasangannya kelak tidak perlu merasakan kesulitan dan susah payahnya mencapai kesuksesan.

Hem…., buat saya ini hanya pembenaran saja dari ketakutan para lajang dalam menghadapi cobaan (berdua). Mereka mungkin hanya tidak ingin terlihat ketika SEDANG gagal, mereka hanya ingin terlihat SUDAH berhasil. Tapi tidak bagi saya, hidup berumah tangga itu akan terasa lebih nikmat dan lebih bahagia apabila kita dan pasangan kita merasakan betapa butuhnya perjuangan dan pengorbanan dalam hidup ini. Dimana kita dan pasangan kita mulai dari titik nol dalam hidup berumah tangga tanpa campur tangan perekonomian kedua orang tua kita. Sangat miris sekali saat melihat pasangan yang berumah tangga nilai kemapanan mereka karena hasil jerih payah kedua orang tuanya, itu tidak ada nilai apapun dibandingkan susah payahnya kita dan pasangan kita saat mengambil keputusan untuk hidup mulai dari titik nol lagi.

Keindahan pemandangan alam bukan cuma karena komposisi warna dan tata letak yang enak dipandang, keindahannya terletak pada bagaimana proses untuk melihat pemandangan tersebut. Kepuasan memancing juga bukan karena ikannya, tapi proses sampai mendapatkan ikannya. Begitu juga dengan keindahan pernikahan, tidak terletak pada bagaimana hasilnya nanti, tapi bagaimana proses mewujudkan hasil tersebut bersama-sama.

Bahkan kalau mau jujur, dibalik kunci kesuksesan para tokoh dunia, ada para istri yang mendukung disampingnya. Tengok saja sejarah Nabi Muhammad SAW, betapa Khadijah saat itu memberikan support yang besar ketika awal penyebaran islam. Lalu, coba kita kaji kembali bagaimana Aisyah dengan qana’ahnya selama mendampingi Rosululloh di masa kejayaan islam dengan tetap hidup sederhana dan bersahaja. Mudah-mudahan kita pun seperti Khadijah ataupun Aisyah yang merupakan dibalik kunci kesuksesan suami mereka adalah adanya para istri sholihah yang selalu mendukung suaminya. Aamiin.

Jadi…Percayalah perasaannya akan sangat berbeda sekali jika anda dan pasangan anda berjuang bersama dari titik nol daripada anda mengajak pasangan anda langsung berada dititik kemapanan.
Wallohua’lam Bishowab
Previous
Next Post »