Seribu kelip cahaya

Wahai kunang-kunang, aku ingin menjadi seperti dirimu, menjadi ribuan titik yang bersatu membentuk cahaya digelap buta, menerangi padamnya jiwa malam-malam yang telah lama membenamkan matahari diufuk kejinggaan. Aku masih tak beranjak dari pinggir jalan ini. disebuah sudut kotak persawahan yang tak lagi tampak menghijau.
Yang terlihat hanyalah kilau kunang-kunang seperti sedang merayakan sebuah pesta kemenangan. Ya, kurasa kunang-kunang itu sedang mengejekku yang kalah darinya. Dunia kunang-kunang yang tak pernah kutahu bagaimana cara binatang misterius itu bisa bertahan hidup. Ia memang misterius. Tuhan anugrahkan zat fosfor pada tubuhnya sehingga mereka bisa menyala-nyala bak kuku-kuku ajaib kelap kelip beterbangan .

Aku ingin bebas seperti mu wahai kunang-kunang. Memberi cahaya di gelap malam atas izin Pemilik Alam. Terbang kian kemari membawa kelap kelip cahaya bak lampu kota. Engkaulah cahaya damai pedesaan kami. Betapa jarang aku memperhatikan dirimu bahwa sesungguhnya engkau anugrah keindahan yang Tuhan titipkan kepada malam.

Kunang-kunang, taukah dirimu mengapa aku begitu mengagumimu malam ini? aku sepi, aku sendiri. Maka setelah pulang dari sompok ini, aku menepi dari jalan, lalu memperhatikanmu yang bahkan satu dua hinggap di roda motorku. Aku tak tahu apa yang engkau rasakan, namun kurasa engkau tak kesepian karena engkau memiliki teman yang nampak olehku jumlahnya ribuan. Subhanallah, maha besar Allah yang menciptakan dirimu wahai kunang-kunang, bahkan Dia juga mengatur kembang biak, makanan dan segala kebutuhanmu.

Persawahan ini masih terpekur memandangi kunang-kunang yang hinggap dibeberapa helai daun padi yang hampir menguning. Membiarkan begitu sawah yang tertata rapi membentang hingga kepelataran kaki bukit kecil ditengah desa. Langit malam masih seperti tak ada batas. Bersih tanpa sedikitpun awan yang bergerombol. Malam ini sempurna bayang-bayang mengikuti tiap benda apa saja yang terpantulkan cahaya bulan. Semua masih kulihat damai, lalu akupuningin  melangkah pulang,,,,

Namun, aku masih disini, tak beranjak. memandang kunang-kunang dari kejauhan. dan aku mulai bimbang. ada apakah gerangan yang terjadi padaku? siang tadi, senja menjelang malam ini, aku tetap tak bisa memutuskan apa-apa. aku seperti berada di belahan bumi yang tak kukenal. Aku tak bisa memutuskan segera. Biarlah, aku tahu suatu saat waktu berbaik hati pada keadaan.

Tulisan ini dibuat oleh : Wiwin Dwi Safitri
diambil dari : http://wiwindwisafitri.blogspot.com/
dipublikasikan : http://im-jabar.blogspot.com
Previous
Next Post »

1 comments:

Click here for comments
phone
admin
Sunday, 15 April, 2012 ×

siiip...

Congrats bro phone you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar